Agustus 2017, Jogjakarta Saksi Sejarah Tumbuh Kembang Hapkido Indonesia

JOGJAKARTA.HAPKIDOBALIKPAPAN.COM - Mengulang sejarah setahun silam, kembali Kota Budaya Jogjakarta menjadi tempat berlangsungnya "Pesta Akbar" cabang olahraga beladiri Hapkido. Setali tiga uang gelaran acara Kejuaraan Nasional yang ke dua terangkai dengan kegiatan Seminar Wasit dan Seminar Pelatih, mulai dari 24 hingga 30 Agustus yang lalu dengan mengambil tempat di beberapa venue.

LANAL Lampung Gelar Hapkido Open Tournament

BANDAR LAMPUNG.HAPKIDOBALIKPAPAN.COM - Tak kurang 16 tim olahraga beladiri Hapkido dari 7 Propinsi di Indonesia akan berpartisipasi pada gelaran kejuaraan "Hapkido Open Tournament Lanal Lampung 2017" di Bandar Lampung Propinsi Lampung esok (20/5/2017).

Hapkido And Taekwondo Black Wolf Batu Kajang : The Real of Harmony

BATUKAJANG.KABARKALTIM.CO.ID - "Jalan Selaras" yang menjadi filosofi disiplin olahraga beladiri Hapkido terwujud dalam acara yang dilangsungkan oleh Pengurus Dojang Hapkido dan Taekwondo Black Wolf PT. SIMS Batu Kajang Kabupaten Paser Kalimantan Timur.

UKT Hapkido Pertama di Kalimantan Bermula di Batu Kajang

BATUKAJANG.KABARKALTIM.NET - Torehan sejarah kembali terukir untuk Hapkido Indonesia di Bumi Borneo. Melalui Kabupaten paling selatan Kalimantan Timur, panitia pelaksana kegiatan sukses menggelar acara ujian kenaikan tingkat untuk yang pertama kalinya di Kalimantan bagi para praktisi beladiri asal negeri ginseng ini.

Harmoni Alam Hapkido Penajam

HAPKIDOBALIKPAPAN.COM - Di sela padat jadwal persiapan rangkaian agenda First Geup Grading Hapkido Paser, Pelantikan Pengurus Cabang Balikpapan dan Short Course Hapkido di Samarinda, para pioneer hapkido Kalimantan Timur seolah tak hendak menyia nyiakan kesempatan untuk terus berkembang dan berkarya.

Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

Master Yoyok : Hapkido Akan Besar di Indonesia

Saibumi.com, Bandar Lampung - Master Vincentius Yoyok Suryadi, akrab disapa Master Yoyok (51), pendiri Hapkido Indonesia menyebut Hapkido sebagai kelahirannya kembali. Berbagai hal seputar olahraga beladiri asal Korea Selatan dan dirinya tersebut terungkap dalam wawancara dengan Saibumi.com di lantai 2 Hotel Amalia Jl Radin Intan Bandar Lampung, Sabtu 9 Mei 2015.
"Hapkido bukan bela diri pertama yang saya geluti. Saya belajar Taekwondo lebih dulu, sejak 1979. Baru pada 1999 saya belajar Hapkido. Itu juga dengan tanpa meninggalkan taekwondo. Selain Taekwondo dan Hapkido, saya juga belajar bela diri yang lain seperti Aikido," kata Master Yoyok mengawali.
Tertarik dan mendalami Taekwondo langsung ke negara asalnya membuatnya mengenal Hapkido. "Kalau dari sejarahnya Hapkido sendiri di Korea Selatan sudah muncul sejak 1950. Nah, saat saya mendalami Taekwondo langsung disana, saya mulai kenalan dengan Hapkido. Mulai belajar juga. Lalu 2009 bertemu dengan Master Don Oh Choi yang sekarang menjadi Presiden Hapkido dunia. Dia yang mengajak dan mendorong saya buat dirikan Hapkido di Indonesia. Tidak secara persis langsung menunjuk saya, karena yang belajar Hapkido asal Indonesia bukan hanya saya," lanjut dia bercerita.
Dorongan dari Master Don Oh Choi sempat mengendap lama. "Setiap saat ketemu lagi, ajakan yang sama terulang lagi. Akhirnya saya mantapkan diri untuk mengeksekusi. Saya minta waktu untuk mempelajari dan mempersiapkan. Tahun 2013 saya akhirnya mulai bergerak. Pertama dengan mengajak murid saya, mengenalkan dan melatih Hapkido sama mereka hingga mereka dapat lisensi sebagai pelatih. Mulai dengan sekitar 40-an pelatih yang selanjutnya disebar keseluruh Indonesia. 2014 baru secara resmi berdiri di Indonesia," urainya.
Dia meyakini Hapkido bakal menjadi kekuatan utamanya yang bisa besar di Indonesia. "Karena saya yakin makanya saya bergerak. Ada pepatah dalam beladiri, keraguan bisa membunuhmu. Saya yakin Hapkido akan long lasting di Indonesia," ujar dia tegas.
Yakin itu juga yang jadi latar belakang Hapkido Indonesia pada 2016 bisa menggelar Kejurnas. Selanjutnya 2017, Hapkido Indonesia sudah bisa kirimkan anggotanya ikut Kejuaraan dunia di Australia. Dengan sudah mengikuti berbagai kejuaraan, niat mereka masuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) lebih lancar.
Hidup Kedua
Lama menggeluti Taekwondo, lebih spesifik dia sebut Hapkido sebagai hidup keduanya. Berkaca pada siklus hidup burung elang. "Banyak yang tidak tahu kalau elang itu hidup dua kali. Saat sudah jadi elang dewasa dan sempurna, ada momen dimana dia akan menyepi, merontokkan seluruh bulunya, bahkan mematahkan paruh dan cakarnya. Lewati proses menyakitkan dan penuh makna tersebut menjadi proses kelahiran kedua dari elang. Begitu juga Hapkido buat saya," katanya penuh makna. Elang juga yang menjadi dasar pemberian nama pada dojang Taekwondo miliknya, Eagle Spirit Taekwondo Academy di Yogyakarta.
Iklim diluar negeri tidak mengenal pembatasan pembelajaran beladiri. "Diluar sana nggak ada peraturan ikut bela diri ini nggak boleh lagi ikut beladiri lain. Itu yang membuat berbagai beladiri terus hidup. Sekarang lihat di media sudah ada mix martial arts. Kemarin saya jadi juri di Uni Emirat Arab, disana Karate digabung sama Taekwondo and its work. Berjalan dengan baik dan berkembang," lanjutnya. Itu sebabnya hingga sekarang aktif di Taekwondo dan Hapkido bisa dijalankannya secara beriringan.
Master Yoyok tidak mau sebut secara spesifik nama beladiri terbaik di bumi ini. "Bela diri yang terbaik adalah beladiri yang bisa dipakai setiap saat. Tidak melulu lewat gerakan beladiri misalnya tapi juga lewat pola pikir dan etika," katanya.
Aktif melatih Hapkido dan membentuk Pengda di seluruh Indonesia bisa dilakukan sejalan dengan menjabat sebagai pengurus Taekwondo internasional. Itu masih ditambah jadi penasehat Taekwondo Indonesia. Diluar kesibukan jadi Kyeorugi Referee - Vice Chairman di World Children Taekwondo Union (WCTU), Founder Eagle Spirit Taekwondo Academy di Yogyakarta dan International Master Instructur serta International Referee World Taekwondo Federation. "Istri saya sempat ngomel juga. Dia bilang rumah jadi kayak halte bis dibandingkan rumah tinggal," katanya sambil tertawa.
Sekilas Mirip Aikido
Sekilas Hapkido mirip dengan Aikido. "Iya, sekilas mirip. Tapi Aikido bermain diareal menyalurkan tenaga lawan, lebih lunak. Hapkido selain lunak juga bermain keras, lebih mirip beladiri Young Modoo. Dari nama juga mirip dengan Aikido. Hap adalah harmoni dan Ki adalah tenaga jadi Hapkido adalah seni mengharmonikan tenaga," masih kata pria yang terlihat sangat bugar diusia lebih setengah abadnya.
Bela diri Hapkido mengajarkannya arti kekuatan untuk melepaskan. "Kekuatan terbesar itu adalah kekuatan untuk melepaskan, bukan kekuatan untuk mendapatkan. Suatu saat tiap orang pasti hadapi momen untuk melepaskan. Dan momen itu tidak pernah sama. Seperti maaf, kita gampang minta maaf. Tapi untuk memberi maaf antara hati dan mulut bisa berbeda," ungkapnya lagi.
Hapkido merupakan beladiri yang bersifat aplikatif. "Artinya proses pembelajaran harus ketemu muka dan praktek langsung.Not a kind of martial arts that you can learn from youtube for example. Hapkido melatih mind, body and soul. Itu satu paket yang utuh dan nggak bisa dipisah," ujarnya.
Itu sebabnya pelatih dan dojang (pusat latihan) Hapkido punya aturan ketat. "Tahun ini boleh dibilang permintaan pendirian dojang dan pelatih dari daerah itu terus ada. Tapi kami nggak bisa asal membuka dojang baru. Calon pelatih langsung saya latih. Dalam pelatihan itu dinilai bagus tidak dia melatih. Kalau lolos, ikut ujian sertifikasi dari Pengurus Pusat Hapkido Indonesia. Mau ambil sabuk hitam sebagai Master maka harus ikut ujian langsung di Korea Selatan," katanya menjelaskan.
Ingat, lisensi sebagai pelatih punya masa kadaluarsa. "Dua tahun sekali pelatih harus upgrade skill and licence-nya. Itu berlaku nasional dan internasional. Kebijakan ini diambil untuk update pengembangan kemampuan sebagai pelatih," tambahnya lagi.
Bukan hanya pelatih, dojang juga ada lisensinya. "Dojang berlisensi harus punya pelatih berlisensi. Lisensi menjadi tolak ukur dojang untuk latihan, misalnya luas latihan dojang. Untuk satu orang siswa minimal harus ada areal latih 3 meter. Waktu dua tahun juga jadi batas dojang untuk upgrade licence-nya," urainya rinci.
Tanpa Batasan Usia
Ingin mempelajari Hapkido tidak ada pembatasan umur. "Kami punya murid usia lima tahun. Tidak ada batasan usia. Sepanjang dia mampu ikuti gerakan maka dia bisa. Tinggal bagaimana pelatih menyesuaikan gerakan Hapkido dengan kondisi fisik dan kepentingannya. Misalnya teknik Hapkido buat seorang polisi tentu beda dengan teknik Hapkido buat kompetisi. Jadi sangat fleksibel dan tidak menuntut kelenturan tubuh atau persyaratan khusus," lanjut Kwang Jangnim (Master dalam bahasa Korea). Hapkido untuk difabel juga sedang mereka kembangkan.
Diujung wawancara, Master Yoyok sempat terdiam sejenak saat ditanya apa yang dia dapat dari mendalami beragam jenis martial arts. "Martial arts is a way of life. Sepanjang saya hidup pasti akan tetap bergelut didunia martial arts. Martial arts mengajarkan saya kalau bahagia itu sekarang, bukan kemarin bukan besok. Bahagia itu proses bukan tujuan. Bahagia itu gampang. Sikap paling penting adalah peduli pada orang lain. Orang terpenting bagi saya adalah orang yang paling dekat dengan saya sekarang. Intinya saya hidup harus bermanfaat. Itu makanya saya disebut manusia," urainya arif diakhir wawancara.(*)
Laporan wartawan Saibumi.com Saryah M Sitopu





Sumber: www.saibumi.com


Minggu, 28 November 2010

Sejarah Hapkido Indonesia


Profil Master Vincentius Yoyok Suryadi ( Founder Hapkido Indonesia )

Master Vincentius Yoyok Suryadi mengenal beladiri sejak kecil, kegemaraan nya membaca dan melihat film silat klasikdan dengan postur yang relatif lebih kecil dari teman – teman nya maka dirinya merasa perlu untuk memiliki ketrampilan membela diri yang memadai.

Dimulai dengan berbagai latihan kungfubersama teman teman sebaya nya dan kemudian berlatih silat? dengan mengikuti kegiatan ekstra kulikuler di sekolah, hingga mulai belajar dan berlatih Taekwondo dengan rutin dan serius adalah ketika di usia SMP dengan GM Lioe Nam Khiong di Yogyakarta sebagai guru pertama nya di awal tahun 1980,? saat ini telah mencapai tingkatan Sabuk Hitam Taekwondo DAN VII Kukkiwon, dan memegang lisensi sebagai Pelatih dan Wasit International dari Taekwondo Dunia, kiprahnya di perwasitan World Taekwondo Federation ( WTF ) mengantar nya berkesempatan berkali kali tugas dalam Kejuaraan Dunia WTF, begitu pula berbagai buku dan beberapa karya untuk memajukan Taekwondo,? termasuk segudang atlet berprestasi pun muncul tak terlepas dari kerja keras bersama team work nya

Eagle Spirit Taekwondo Academy ( ESTA ) adalah akademi Taekwondo yang didirikan bersama sahabat baiknya Master Ganis Hartono, mempelopori format baru dalam pola pengembangan dan manajemen Taekwondo di Indonesia, bahkan dojang dojang jaringan ESTA terbukti menghasilkan banyak atlet, karya dan prestasi yang membanggakan, ESTA sampai sekarang? yang memiliki jaringan hingga di 20 provinsi di Indonesia dan network yang baik di International masih dkembangkan terus dengan serius.

Kegairahan akan belajar dan terus mengembangkan seni beladiri menjadi kegiatan nya sehari hari, karena pengalaman sejak kecil dan pola pikir nya yang selalu Universal dan Plural dalam memandang dunia , maka mempelajari berbagai seni beladiri dan berteman dan bersahabat dari berbagai latar belakang beladiri yang berbeda menjadi terbiasa.

Hapkido mulai dikenalnya saat di Korea sejak tahun 1999 ketika mengikuti Kukkiwon Instructor Course untuk Taekwondo, dan setiap tahun jika berkesempatan ke Korea selalu berusaha dapat? terus berlatih walaupun tidak secara formal dan intens, namun berbagai teknik dan prinsip Hapkido yang selaras dengan? Hosinsul di Taekwondo sudah di masukan? kedalam kurikulum pelatihannya.

Pada tahun 2007 pertemuan pertama dengan Presiden Hapkido WHMAF memotivasi nya untuk terus tetap berlatih dan pada? akhirnya pada tahun 2013 mulai terbuka jalan untuk merintis dan mengembangkan Hapkido di Indonesia, hingga pada 23 – 25 Mei 2014 di kenalkan secara resmi melalui kegiatan Seminar Internasional Hapkido di Yogyakarta dengan master instructor dari World Hapkido Martial Arts Federation ( WHMAF ) Korea.

Pada saat ini Master V. Yoyok Suryadi, menyandang DAN VII HAPKIDO WHMAF yang diraih nya saat Seminar Hapkido WHMAF pada awal April 2014 yang lalu di Seoul , Korea Selatan.

Prinsip bahwa di Empat penjuru Lautan kita semua bersaudara dan integritas nya di olah raga beladiri,? telah membuahkan hasil, Hapkido Indonesia yang saat di deklarasikan secara resmi langsung mendapatkan respon yang luar biasa dan dalam tempo relatif singkat? dari para peserta yang berasal lebih dari 10 provinsi di Indonesia makin membuka jalan mencapai cita – cita nya untuk megembangkan Hapkido Indonesia, menjadi salah satu olah raga seni beladiri yang populer dan berprestasi bagi Indonesia.



Sabtu, 27 November 2010

Sejarah Hapkido

Pendiri Hapkido Korea
Hapkido Grandmaster Choi , Yong Sul (1904-1986)
Sejarah Hapkido Korea dengan pendirinya, Choi.Yong Sul (1904-1986), yang hidupnya sangat dipengaruhi dengan invasi oleh Jepang pada tahun 1910 ke Korea.
Lahir di Yong Dong di provinsi Chungcheongbuk -do , Choi dibawa? oleh seorang pedagang bernama Morimoto pada usia delapan ke Jepang. Morimoto, ingin mengadopsi Choi muda. Choi namun terbukti menjadi anak bermasalah dan akhirnya dilepas di jalanan, hingga menjalani kehidupan pengemis sampai di Osaka di mana ia ditangkap oleh polisi dan dibawa ke sebuah kuil Buddha di Kyoto yang peduli untuk anak yatim . Kepala biara kuil , seorang biarawan bernama Watanabe Kintaro , merawat Choi muda selama dua tahun .

Choi memiliki masa masa sulit hidup di kuil , dan sebagai orang asing dan? miskin, sering dipukul oleh anak-anak lain dan memiliki kecenderungan untuk berkelahi. Watanabe akhirnya Choi dibawauntuk bertemu temannya Sokaku Takeda (1859-1943) , yang terkenal di seluruh Jepang sebagai pewaris dari aliran Daito-ryu aiki jujitsu.

Daito ryu aiki jujitsu didirikan oleh Yoshimitsu Minamoto pada abad ke-11,? Seni perang rahasia yang dijaga ketat dan hanya diajarkan kepada anggota peringkat tertinggi dari keluarga samurai tertentu . Pada akhir era Meiji, Tonomo Saigo (1829-1905) , adalah orang diluar hirarki yang pertama kalinya mempelajari nya kepada Sokaku Takeda.

Rumah dan dojo Takeda berada di Akira di gunung Shin Shu di mana Choihidup dan dilatih dengan master legendaris selama 30 tahun . Sokaku meninggal pada 25 April 1943.

Setelah perang dunia kedua (1939-1945) , Choi kembali ke Korea dan menetap di Taegue , ibu kota Gyeong Sangbuk -do provinsi, di mana ia memulai hidup dengan? menjual kue beras .
Pada tahun 1948 ia telah mendapatkan cukup uang untuk membeli beberapa babi .
Untuk menggemukkan babi ia membutuhkan biji-bijian , yang diperoleh dengan memompa air di Suh Brewing Company . Sambil menunggu gandum di tempat pembuatan bir ia menjadi terlibat dalam sengketa dengan beberapa pria dimana perkelahian tersebut disaksikan oleh Suh Bok Sub , ketua perusahaan dan anak dari pemilik.
Suh terkesan dengan keterampilan Choi dan mengundangnya untuk mengajar, selanjutnya Bok Sub menjadi mahasiswa pertama Choi Yong Sul .

Pada tahun 1951 Choi dan Sub bersama sama membuka dojang resmi pertama, dojang Korea Yu Kwan Sool Hapki , dan pada tahun 1958 Choi membuka dojang sendiri menggunakan nama Hapkido Pada tahun 1963 Grandmaster Choi menjadi ketua Korea Kido Association yang baru terbentuk , sebuah organisasi yang memayungi hampir semua seni bela diri Korea .

Seni bela diri tradisional serta budaya Korea, yang ditekan selama pendudukan Jepang (1910-1945), tetapi ketika perang berakhir ada kebangkitan disiplin ilmu bela diri . Banyak pelopor seni bela diri muncul , termasuk Choi Yong Sul , menciptakan kebangkitan seni bela diri Korea .

Pada selanjutnya Choi dan berbagai pengaruh para murid seniornya mulai menggabungkan teknik tendangan dan pukulan agresif beladiri Taek Kyon ke dalam gaya dasar defensif Daito-ryu , sehingga Hapkido yang sebenarnya mempunyai kesamaan dengan Aikido akhirnya menjadi seni beladiri yang memiliki teknik2 menyerang yang agresif.

Status Choi Yong Sul sebagai murid Sokaku Takeda kadang-kadang diperdebatkan . Terlepas dari posisi Choi, ia unggul di bawah arahan Sokaku Takeda & menguasai seni Daito-ryu aiki jujitsu .

Pada tahun 1982 ia melakukan perjalanan ke Amerika Serikat , mengunjungi berbagai sekolah beladiri Korea, mengungkapkan keinginannya bahwa berbagai group yang berbeda dari Hapkido menjadi bersatu. Choi meninggal pada tahun 1986 pada usia 82 dan dimakamkan di kota Taegue.
Putranya, Choi Bok Yeol menjadi penggantinya , namun meninggal setahun kemudian pada tahun 1987 .
Pada saat itu tidak ada pengganti lainnya yang ditunjuk, sehingga hal inilah yang mempengaruhi juga makin merebaknya berbagai gaya Hapkido didunia.


Tentang World Hapkido Martial Arts Federation ( WHMAF )


News Update